Arab Saudi Larang Sebut Umrah dan Haji Sebagai Wisata Religi

0
354

Kerajaan Arab Saudi mengeluarkan larangan menggunakan istilah wisata religi untuk umrah dan haji. Meski demikian, hal ini sama sekali tidak berpengaruh banyak bagi Indonesia, karena juga tak pernah menggunakan istilah tersebut.

“Nggak ngaruh ya, soalnya kalau di Indonesia kita nggak pernah pakai istilah itu. Kan kita bilangnya perjalanan ibadah haji dan umrah,” kata Ketua Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (HIMPUH) Baluki Ahmad sebagaimana dikutip dari detikTravel, Selasa (12/3/2019).

Lebih lanjut, ia mengatakan tak mengetahui alasan di balik pelarangan penggunaan istilah wisata religi atau dalam bahasa Arab (siyaahah ad-diiniyyah) untuk kegiatan haji dan umrah. Negara ini sejak awal memang tak pernah menggunakan istilah tersebut. Ia pun menduga jika istilah tersebut ditujukan ke travel umrah dari Eropa.

Sementara itu, wisata religi sendiri mengacu pada perjalanan di luar umrah dan haji. “Wisata religi itu biasanya untuk yang di luar perjalanan umrah dan haji. Kan kita ingin perjalanan dikemas dengan nuansa ibadah,” katanya.  Larangan Arab Saudi terhadap penggunaan istilah tersebut juga tak mempengaruhi appun untuk kegiatan umrah dan haji. Meski di sisi lain terdapat keuntungan tersendiri bagi para pelaku usaha travel terkait pajak.

“Umrah dan haji kan abu-abu untuk pajak. Kalau wisata umum itu kan kena pajak 1 persen. Kalau luar (Arab Saudi-red) pun anggap umrah adalah perjalanan ibadah, ya nanti bisa tidak dikenakan pajak,” pungkasnya.

Terkait larangan penggunaan istilah umrah dan haji sebagai wisata religi mengacu pada surat dari Wakil Menteri Haji dan Umrah Saudi tanggal 2 Jumadil Akhir 1440 H (7 Februari 2019) yang merujuk pada Dekrit Kerajaan.

Surat tersebut diikuti dengan surat Muassasah Muthawwif Jemaah Haji Asia Tenggara kepada Ketua Kantor Urusan Haji Indonesia. Isi suratnya adalah pelarangan menggunakan istilah ‘wisata religi’ (siyaahah ad-diiniyyah) untuk kegiatan haji dan umrah.

Tak hanya haji dan umrah, larangan tersebut juga mengaju pada ziarah ke Masjid Nabawi. “Sekarang, istilah itu dilarang untuk kegiatan apapun yang terkait dengan haji, umrah, atau ziarah ke Masjid Nabawi,” kata Konsul Haji atau Staf Teknis Haji KJRI di Jeddah Endang Jumali seperti dikutip Sibuliburan.id dari detikTravel.

Secara historis Masjid Nabawi merupakan masjid yang penting bagu umat Islam. Masjid yang berada di Madinah ini merupakan salah satu masjid yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW.

Menjadi tujuan umar yang ingin berziarah ke makam Nab Muhammad SAW dan para sahabat, masjid tersebut merupakan masjid terbesar kedua setelah Masjidil Haram. Saat pertama kali dibangun Rasulullah, masjid ini hanya berukuran 50×50 meter. Namun, kini masjid tersebut luasnya mencapai lebih dari 100ribu meter persegi.

Sumber: detikTravel

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here