Buku Harian Jurnalis Ramah Pariwisata, Pedoman Bagi Pers dan Netizen

Pada 7 Februari 2019 lalu, kementerian pariwisata bekerja sama dengan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) meluncurkan sebuah buku berjudul “Buku Jurnalisme Ramah Pariwisata”.

0
888

Sibuk Liburan – Pada 7 Februari 2019 lalu, kementerian pariwisata bekerja sama dengan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) untuk meluncurkan sebuah buku berjudul “Buku Jurnalisme Ramah Pariwisata”. Acara peluncuran tersebut bertepatan dengan Gala Dinner Hari Pers Nasional 2019 yang diadakan di Hotel JW. Marriott, Surabaya.

Peluncuran ini didukung dan digagas oleh sejumlah tokoh pers seperti Ketua PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Atal S. Depari, Ishadi SK, Margiono, Ilham Bintang dan tak ketinggalan Auri Jaya selaku Ketua SMSI sendiri.

Keberadaan buku ini diharapkan dapat menciptakan kembali suasana yang kondusif di bidang pariwisata Indonesia setelah banyaknya pemberitaan terkait bencana di sejumlah daerah. Hal tersebut ditengarai telah berdampak pada perubahan iklim kepariwisataan di Indonesia.

Menpar (Menteri Pariwisata) Arief Yahya memaparkan bahwa buku setebal 213 halaman tersebut memiliki konten yang bisa dijadikan acuan dalam menerima dan menyebarkan sejumlah informasi. Dipaparkan pula oleh Ketua SMSI Auri Jaya, buku ini akan mengupas posisi wartawan sebagai subjek yang memiliki andil dalam menjalankan fungsi kontrol pers.

Tak bisa dipungkiri, saat ini peran pemberitaan media secara online amat berperan dalam membentuk persepsi masyarakat. Akan tetapi, kehadiran buku ini juga tidak lantas menjadi bentuk pembatasan karya terhadap para jurnalis itu sendiri. Terdapat sejumlah poin dan bahasan tema di dalamnya yang berkaitan dengan cara pandang etis terhadap sejumlah pemberitaan yang kerap diwartakan.

Isu-isu pemberitaan negatif tak pelak menimbulkan berbagai persepsi yang mempengaruhi cara berpikir di masyarakat. Buku ini menyisipkan pesan betapa pentingnya menciptakan pemberitaan yang tak serta merta hanya berfokus pada kondisi yang dipaparkan tetapi juga tetap memperhatikan sejumlah kaidah dalam penulisan.

Seperti yang dikutip dari Suaramerdeka.com (09/02/2019), buku ini memuat tujuh tema bahasan yang ada di dalamnya, diantaranya adalah Jurnalisme Pariwisata Sebuah Panduan Etika Liputan, Prinsip-prinsip Etika Jurnalisme Pariwisata, Praktek Jurnalisme Ramah Pariwisata di 3 Negara, Wartawan Jangan Tinggalkan Tiga Prinsip Utama Jurnalistik, Media Sosial: Pedang Bermata Dua, Ancaman Dunia Pariwisata, Konsep dan Fakta Tentang Pariwisata yang Perlu Diketahui Wartawan, dan terakhir adalah Catatan Penutup: Peran Besar Media dan Netizen dalam Mendukung Pariwisata Indonesia.

Buku ini diharapkan dapat menyasar sejumlah kalangan seperti wartawan, netizen, aparatur pemerintah dan sejumlah pelaku lainnya yang dianggap memiliki kepentingan terhadap penyebaran informasi sehubungan dengan bencana dan pariwisata.

Penulisan masing-masing tema pada buku tersebut melibatkan sejumlah kontributor yang juga merangkap sebagai praktisi pers seperti Nurcholis MA Basyari, Yoseph Adi Prasetyo, Auri Jaya dan Agus Sudibyo selaku editor.

Tak ketinggalan, Menpar Arief Yahya juga turut memberikan goresannya dalam buku ini melalui kata sambutan di bagian depannya. Diharapkan kerja sama ini akan memberikan dampak kemajuan di waktu mendatang terutama pada bidang pariwisata Tanah Air.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here