Desa Gassho Zukuri, Desa Beratap Jerami yang Masuk Warisan Budaya UNESCO

Tahun 1995, desa ini masuk dalam daftar warisan budaya UNESCO (bersama dua desa lainnya di Gokayama).

0
426
Gassho Zukuri

Seperti kebanyakan negara Asia, Jepang adalah negara yang masih mempertahankan tradisi dan nilai-nilai budaya sekalipun kehidupan sudah modern. Jika ingin melihat Jepang jauh dari hiruk pikuk kota besar, cobalah ke Perfektur Toyama.

Ada apa disana? Ada desa Shirakawa-go dengan atap terbuat dari jerami. Namanya Gassho Zukuri yang dalam bahasa Jepang artinya ‘tangan yang berdoa’. Atapnya ini berbentuk segitiga  dan keindahan akan semakin terlihat saat salju menutupi atapnya. Berasa seperti di dunia lain. Musim dingin menjadi saat yang tepat untuk berkunjung (Januari-Februari).

Gassho Zukuri

Jalinan jerami ini sangat tebal. Tujuannya untuk meminimalisir efek udara dingin yang masuk ke rumah. Lalu,coba perhatikan lagi. Atap-atap jerami ingin menghadap ke timur dan barat. Ada maksudnya lho,yaitu agar salju yang di atap bisa cepat mencair. Wah, pemikirannya maju ya?

Ventilasinya menghadap ke utara dan selatan untuk menjaga sirkulasi udara di dalam rumah. Benar-benar pemikiran yang melampaui zamannya!

Rumah Gassho-zukuri ini terbuat dari kayu. Keunikannya, tidak ada satu paku pun yang digunakan untuk menyatukan satu bagian dengan bagian yang lain. Semua direkatkan dengan jalinan jerami (neso). Tahun 1995, desa ini masuk dalam daftar warisan budaya UNESCO (bersama dua desa lainnya di Gokayama).

Falsafah gotong royong pada Gassho Zukuri

Jika kita sebagai bangsa Indonesia kerap membanggakan kerja sama atau gotong royong,  nilai itu juga berlaku dalam pembangunan desa yang unik ini. Di Jepang, tradisi gotong royong dikenal dengan nama yui.

Di masa itu, seluruh penduduk desa turut membantu jika ada salah satu warga yang hendak mengganti atap rumah. 

Acara penggantian atap ini menarik wisatawan tiap tahun. Bahkan turis asing pun ikut serta dalam acara ini. Wah, seperti apa ya? Penggantian atap dilakukan oleh ratusan orang dan harus dikerjakan dengan cepat agar aktivitas sang pemilik rumah bisa berjalan normal.

Jerami untuk atap biasanya dipanen di musim gugur, kemudian dikeringkan dan digunakan di musim semi atau gugur berikutnya. Jerami dengan kualitas terbaik diikat bercamput dengan atap baru lalu digunakan untuk bagian paling atas.

Nilai gotong royong ini juga menjadi alasan mengapa desa ini masih bertahan sampai saat ini. Oleh karena itu, wajar saja jika desa ini masuk daftar warisan budaya dunia.

BACA JUGA: Melongok Sejarah Jepang Di Kastil Matsumoto

Namun, seiring perkembangan zaman, beberapa warga menggunakan bahan yang lebih awet untuk atap (seperti seng). Walau begitu, masih banyak yang masih mempertahankan tradisi atap jerami ini.

Menginap di rumah warga lokal

Di musim dingin, jumlah turis melonjak untuk menyaksikan keindahan desa ini. Otomatis terjadi perubahan pada kegiatan warga desa Gassho Zukuri.

Para warga desa tidak semata-mata mengandalkan hidup dari hasil tani. Mereka juga dengan kreatifnya menyulap tempat tinggal mereka untuk dijadikan penginapan atau toko suvenir.

Dengan menginap di rumah khas desa, Sahabat Silir merasakan pengalaman baru dan belajar hal baru yang tidak didapat di keramaian kota. Sekaligus menyegarkan pikiran, bukan?

Tradisi panen raya

Gokayama dan Shiakawago sebenarnya tempat terpisah yang jaraknya cukup jauh. Gokayama artinya 5 gunung dan letaknya di bagian Alpen utara Pulau Honshu. Sementara Gokayama ada di pulau Nanto di prefektur Toyama.

Beberapa tradisi kuno masih dipertahankan. Misalnya tradisi  Kokiriko yang kalau di Indonesia seperti tradisi panen raya. Masyarakat akan menari di malam hari saat salju sudah menumpuk. Acara ini diadakan setiap 25-26 September. (YR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here