Everest! Menjadi Impian Pendaki, Namun Juga Titik Terngeri di Bumi

Seperti diketahui Gunung Everest merupakan puncak tertinggi di dunia yang berada dalam rangkaian Pegunungan Himalaya. Ketinggiannya mencapai 9.848 mdpl.

0
436
Everest

Siapa tak mengenal Everest?!

Ya, puncak gunung tertinggi di dunia itu memang memikat dan menjadi tempat impian bagi para pendaki gunung. Namun, bukan berarti keeelokan di puncak tertinggi Bumi itu bisa ditebus dengan mudah.

Tidak! Banyak pendaki menemui ajalnya saking ngeri dan bahayanya puncak tersebut.

Everest! Menjadi Impian Pendaki, Namun Juga Titik Terngeri di Bumi

Seperti diketahui Gunung Everest merupakan puncak tertinggi di dunia yang berada dalam rangkaian Pegunungan Himalaya. Ketinggiannya mencapai 9.848 mdpl. Pemandangan alam di sana sungguh menakjubkan. Tak heran jika titik tertinggi itu menjadi impian banyak pendaki untuk menapakkan kakinya.

Akan tetapi, untuk menaklukannya pendaki memang harus berani ‘menantang maut’. Dikatakan demikian, karena Everest memiliki banyak ‘cara menyiksa’ para pendaki, sehingga mereka yang benar-benar kuat dan beruntunglah yang bisa berangkat dan pulang dengan selamat.

‘Siksaan’ itu diantaranya adalah suhu yang terlalu dingin, mencapai -40 derajat celcius dan kecepatan angin yang menembus 80km. Selain dua hal tersebut, Everest juga diketahui memiliki Zona Kematian.

Disebut begitu lantaran di titik tersebut pernah ditemukan sebanyak 200 jasad pendaki sebagaimana dicatat BBC pada 2015 lalu.

Zona Kematian sendiri adalah sebutan untuk daratan di Everest yang sudah mencapai ketinggian 8.000 mdpl. Di titik tersebut, manusia sudah akan sulit bernafas. “Bernafas pada ketinggian segitu (8.000 mdpl), sama saja dengan bernafasnya orang yang sedang sekarat,” kata Jeremy Windsor, dokter yang pernah mendaki Everest di tahun 2007 bersama Ekspedisi Caudwell Xtreme.

Di titik itu, sebutnya, suhu udara sangat tipis. “Di atas ketinggian 12 ribu kaki (setara 3.657 mdpl), kadar oksigen berkurang 40 persen,” terangnya. Pendaki lainnya, David Breashears juga menyebut jika semakin tinggi, oksigen semakin tipis. “Kayak lagi lari di treadmill, tapi nafasnya pakai sedotan,” ungkapnya.


Dengan demikian, semakin tinggi puncak yang didaki, semakin tinggi pula risiko sulit bernafas—yang bisa menjadi penyebab kematian. Ada beberapa istilah medis yang mengacu pada penyebab tersebut. Salah satunya adalah HAPE (High Altitude Pulmonary Edema), suatu kondisi terjadinya penumpukan cairan pada paru-paru dan membuat fungsi paru-paru bisa terganggu.

HAPE adalah endema paru-paru yang terjadi di tempat yang tinggi. Lalu, HACE (High Altitude Pulmonary Edema), kondisi pembengkakan pada otak, sehingga otak kelebihan cairan.

Tak ketinggalan adalah hipoksia, yaitu kondisi sel dan jaringan tubuh yang mengalami kekurangan oksigen. Akibat dari gejala ini adalah terganggunya fungsi hati, otak juga berbagai organ penting lainnya serta menyebabkan gejala halusinasi.

Momok lain akibat kedinginan adalah frostbit, yaitu jaringan tubuh membeku dan harus diamputasi. Terakhir, yang paling familiar adalah hipotermia, yaitu saat suhu tubuh turun kurang dari 37 derajat celcius.(y)

Tag:  Everest, Impian Pendaki, Namun Juga Titik Terngeri di Bumi, Puncak Everest, Pegunungan Himalaya, hipotermia, HACE, HAPE, hipoksia,

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here