Everest! Menjadi Impian Pendaki, Namun Juga Titik Terngeri di Bumi

Seperti diketahui Gunung Everest merupakan puncak tertinggi di dunia yang berada dalam rangkaian Pegunungan Himalaya. Ketinggiannya mencapai 9.848 mdpl.

Siapa tak mengenal Everest?!

Ya, puncak gunung tertinggi di dunia itu memang memikat dan menjadi tempat impian bagi para pendaki gunung. Namun, bukan berarti keeelokan di puncak tertinggi Bumi itu bisa ditebus dengan mudah.

Tidak! Banyak pendaki menemui ajalnya saking ngeri dan bahayanya puncak tersebut.

Everest! Menjadi Impian Pendaki, Namun Juga Titik Terngeri di Bumi

Seperti diketahui Gunung Everest merupakan puncak tertinggi di dunia yang berada dalam rangkaian Pegunungan Himalaya. Ketinggiannya mencapai 9.848 mdpl. Pemandangan alam di sana sungguh menakjubkan. Tak heran jika titik tertinggi itu menjadi impian banyak pendaki untuk menapakkan kakinya.

Akan tetapi, untuk menaklukannya pendaki memang harus berani ‘menantang maut’. Dikatakan demikian, karena Everest memiliki banyak ‘cara menyiksa’ para pendaki, sehingga mereka yang benar-benar kuat dan beruntunglah yang bisa berangkat dan pulang dengan selamat.

‘Siksaan’ itu diantaranya adalah suhu yang terlalu dingin, mencapai -40 derajat celcius dan kecepatan angin yang menembus 80km. Selain dua hal tersebut, Everest juga diketahui memiliki Zona Kematian.

Disebut begitu lantaran di titik tersebut pernah ditemukan sebanyak 200 jasad pendaki sebagaimana dicatat BBC pada 2015 lalu.

Zona Kematian sendiri adalah sebutan untuk daratan di Everest yang sudah mencapai ketinggian 8.000 mdpl. Di titik tersebut, manusia sudah akan sulit bernafas. “Bernafas pada ketinggian segitu (8.000 mdpl), sama saja dengan bernafasnya orang yang sedang sekarat,” kata Jeremy Windsor, dokter yang pernah mendaki Everest di tahun 2007 bersama Ekspedisi Caudwell Xtreme.

Di titik itu, sebutnya, suhu udara sangat tipis. “Di atas ketinggian 12 ribu kaki (setara 3.657 mdpl), kadar oksigen berkurang 40 persen,” terangnya. Pendaki lainnya, David Breashears juga menyebut jika semakin tinggi, oksigen semakin tipis. “Kayak lagi lari di treadmill, tapi nafasnya pakai sedotan,” ungkapnya.


Dengan demikian, semakin tinggi puncak yang didaki, semakin tinggi pula risiko sulit bernafas—yang bisa menjadi penyebab kematian. Ada beberapa istilah medis yang mengacu pada penyebab tersebut. Salah satunya adalah HAPE (High Altitude Pulmonary Edema), suatu kondisi terjadinya penumpukan cairan pada paru-paru dan membuat fungsi paru-paru bisa terganggu.

HAPE adalah endema paru-paru yang terjadi di tempat yang tinggi. Lalu, HACE (High Altitude Pulmonary Edema), kondisi pembengkakan pada otak, sehingga otak kelebihan cairan.

Tak ketinggalan adalah hipoksia, yaitu kondisi sel dan jaringan tubuh yang mengalami kekurangan oksigen. Akibat dari gejala ini adalah terganggunya fungsi hati, otak juga berbagai organ penting lainnya serta menyebabkan gejala halusinasi.

Momok lain akibat kedinginan adalah frostbit, yaitu jaringan tubuh membeku dan harus diamputasi. Terakhir, yang paling familiar adalah hipotermia, yaitu saat suhu tubuh turun kurang dari 37 derajat celcius.(y)

Tag:  Everest, Impian Pendaki, Namun Juga Titik Terngeri di Bumi, Puncak Everest, Pegunungan Himalaya, hipotermia, HACE, HAPE, hipoksia,

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Mungkin kamu juga suka

Mengintip Budaya Guizhou dari Koleksi Guizhou Provincial Museum

Tak dipungkiri, China adalah negara yang besar. Bukan saja wilayahnya dan penduduknya yang tercatat terbanyak di dunia, negara ini juga memiliki ‘sejarah’...

Kota Perth Bangun Toilet Senilai Rp 4 M Demi Pecinta Instagram

Sibuk Liburan - Kota Perth, rela mengucurkan dana hingga Rp 4 miliar ‘hanya’ untuk membangun sebuah toilet. Toilet berbajet fantastis ini sengaja...

Keseruan Bangka Culture Wave 2019 Segera Sapa Wisatawan

Bagi Sahabat Silir yang ingin menyaksikan event bertajuk alam dan budaya, Pulau Bangka menawarkan agenda tahunan yang menarik untuk dilirik. Bangka Culture Wave merupakan event...

Shinjuku Tempat Wisata Serba Ada di Tengah Hiruk Pikuk Tokyo

Shinjuku - Wilayah Tokyo–Jepang memiliki banyak tempat berkarakter yang bisa dipilih untuk dijelajahi oleh masing-masing individu. Apabila Sahabat Silir berniat untuk melakukan...

Menengok Kemegahan Festival Musim Dingin di Kota Harbin China

Sibuk Liburan - Musim dingin adalah musim yang paling tepat untuk berkunjung dan menghabiskan waktu di Kota Harbin di China. Saat musim bersalju tiba,...

Terbaru

STEP BY STEP: Cara Membuat Paspor Online Indonesia

Paspor merupakan dokumen penting yang harus dimiliki Sahabat Silir jika ingin bepergian ke luar negeri. Paspor sendiri adalah...

Karena Virus Corona, Udara Jadi Lebih Bersih

Selalu ada hikmah di balik sebuah peristiwa. Barangkali ini pula ungkapan yng cocok untuk menggambarkan situasi saat ini, di mana dunia sedang...

Gara-gara KLB Corona, Pasar Klewer Solo Sepi

Terimbasnya virus corona ke Indonesia membawa banyak konsekuensi. Bukan saja soal jatuhnya korban jiwa maupun pasien yang terkena virus yang diklaim berasal...

8 Tempat Wisata Indonesia yang Wajib Dikunjungi Tahun 2020

Indonesia dikenal sebagai negara yang besar, bukan saja karena jumlah penduduknya yang banyak, melainkan juga lantaran banyaknya kekayaan alam dan budaya yang...

Aneh tapi Nyata! Wine Mengalir di Keran Warga di Italia

Umumnya keran yang tersambung ke rumah akan berisi aliran air bersih untuk kepentingan sehari-hari. Namun, kejadian satu ini aneh bin ajaib!

STEP BY STEP: Cara Membuat Paspor Online Indonesia

Paspor merupakan dokumen penting yang harus dimiliki Sahabat Silir jika ingin bepergian ke...

Karena Virus Corona, Udara Jadi Lebih Bersih

Selalu ada hikmah di balik sebuah peristiwa. Barangkali ini pula ungkapan yng cocok...

Gara-gara KLB Corona, Pasar Klewer Solo Sepi

Terimbasnya virus corona ke Indonesia membawa banyak konsekuensi. Bukan saja soal jatuhnya korban...

8 Tempat Wisata Indonesia yang Wajib Dikunjungi Tahun 2020

Indonesia dikenal sebagai negara yang besar, bukan saja karena jumlah penduduknya yang banyak,...