Mengenal Festival Chuseok Saat Musim Gugur di Korea Selatan

Chuseok lebih dikenal sebagai hangawi, yaituberasal dari kata Han yang berarti “raya” dan Gawi yang berarti “tengah”. Sebab perayaannya selalu diadakan pada pertengahan musim gugur.

0
1240
Festival Chuseok

Seperti halnya Lebaran di Tanah Air, masyarakat Korea Selatan juga memiliki hari libur yang biasa dijadikan kesempatan untuk mudik massal, yaitu saat Festival Chuseok. Perayaaan ini umumnya jatuh pada hari ke-15 bulan delapan yang bertepatan dengan musim gugur.

Secara harafiah, Chuseok sendiri memiliki makna “hari bulan purnama”. Pada waktu tersebut masyarakat Negeri Ginseng akan mendapatkan jatah libur nasional selama tiga hari.

BACA JUGA: Makanan Musim Gugur yang Banyak ditemui di Korea Selatan

Apabila Sahabat Silir adalah penggemar K-pop sudah pasti sangat mengenal perayaan yang satu ini. Sebab para idol umumnya akan mengucapkan “selamat hari libur” sembari mengenakan hanbok – pakaian tradisional Korea Selatan di sosmed mereka.

Mengenal Festival Chuseok

Menilik dari sejarahnya, perayaan Chuseok sendiri diperkirakan sudah dilakukan sejak zaman Kerajaan Silla (57 SM – 935). Pada waktu itu Chuseok lebih dikenal sebagai hangawi, yaituberasal dari kata Han yang berarti “raya” dan Gawi yang berarti “tengah”. Sebab perayaannya selalu diadakan pada pertengahan musim gugur.

Pada waktu itu hangawi dirayakan dengan cara mengadakan lomba tenun, yang mana pemenangnya akan memperoleh hasil panen melimpah sebagai hadiahnya. Selain itu, terdapat juga tradisi ziarah yang hanya boleh dihadiri oleh kaum lelaki saja.

Kebiasaan Festival Chuseok sedari dulu memang dilakukan sebagai bentuk syukur terhadap hasil panen yang melimpah. Oleh karenanya, perayaan ini dikenal juga sebagai Thanksgiving-nya Korea.

Pada kesempatan ini, orang Korea akan mudik ke kampung halaman agar bisa berkumpul bersama keluarga. Tak terlalu berbeda dengan Lebaran di Indonesia, berbagai masakan lezat juga akan memenuhi meja makan.

Songpyeon adalah salah satu makanan manis khas Chuseok dari adonan tepung beras yang memiliki isian pasta dari kacang-kacangan atau wijen. Ada juga hidangan panekuk tradisional jeon, sup talas torantang, rebus iga sapi galbi jjim, sate hwayangjeok, dan masih banyak lagi.  

BACA JUGA: Keunikan Pulau Jeju Dibandingkan Tempat Lainnya di Korea Selatan

Selain itu, Chuseok juga biasa dirayakan dengan berbagai tradisi, diantaranya adalah kebiasaan membersihkan makam keluarga dari rerumputan yang disebut Beolcho. Terdapat juga kebiasaan Seongmyo yang berarti menghormati leluhur sembari memberi persembahan makanan.

Tak hanya itu, kebiasaan berbagi makanan yang disebut Eumbok juga menjadi salah satu tradisi penting yang dianggap mampu merekatkan hubungan antar anggota keluarga. Kemudian terdapat juga kebiasaan mengatur meja makan dan menawarkan makanan kepada orang paling tua yang disebut dengan Charye.

Acara bercengkerama tak hanya berkisar pada menyantap hidangan saja, tetapi juga aneka hiburan. Dimulai dari permainan Salmunori–permainan perkusi tradisional Korea Selatan, tari melingkar Ganggangsullae, tari topeng yang disebut Talchum, hingga gulat tradisional Ssireu dilakukan untuk membuat suasana lebih meriah.

Dengan banyaknya keseruan yang diadakan, wajarlah jika perayaan Festival Chuseok amat dinanti oleh masyarakat Korea Selatan. Dimulai dari merekatkan ikatan keluarga, memupuk tradisi, bersantap makanan lezat, hingga menyaksikan hiburan menarik dapat ditemukan pada waktu tersebut. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here