Istana Khudayar Khan di Lembah Fergana, Bukti Tingginya Peradaban Uzbekistan

0
503
khudayar khan

Sibuk Liburan, Istana Khudayar Khan – Bicara soal wisata ke luar negeri, barangkali Uzbekistan jarang sekali dilirik. Hal ini memang tidak mengherankan, mengingat negara di kawasan Asia Tengah ini pariwisatanya memang belem semassif negara-negara di kawasan Asia Tenggara atau Asia Timur. Meski demikian, bukan berarti negara ini tak memiliki tempat menarik untuk dikunjungi.

Sebaliknya, negara ini justru memiliki berjuta pesona yang bahkan tak dijumpai di negara lain manapun. Negara ini memiliki banyak kota tua bahkan berusia ribuan tahun. Menariknya, bangunan peninggalannya masih terawat hingga kini. Ajibnya lagi, negara ini pun memiliki pemandangan alam yang menakjubkan. Salah satu keindahan itu terpancar dari Lembah Fergana. Memiliki keindahan alam yang mengundak decak kagum, Lembah Fergana pun sekalius menjadi saksi bisu tingginya peradaban Uzbekistan.

Lembah Fergana merupakan salah satu tempat perkembangan peradaban Khanate pada abad ke-19. Kawasan ini di masa lalu menjadi bagian penting dalam Jalur Sutra. Lembah ini menjadi satu dari beberapa rute dalam jalur perdagangan klasik sekaligus paling berpengaruh sepanjang sejarah itu. Kini, lembah tersebut masuk dalam kawasan 3 negara, yaitu Uzbekistan, Kirgistan dan Tajikistan. Jalur ini menjadi pertemuan peradaban antara Tiongkok dan Persia serta Timur Tengah. Selain itu, jalur ini juga merupakan peryemuan peradaban Rusia dengan Mughal.

Berkat strategisnya posisi tersebut, wilayah ini pun tumbuh menjadi pusat peradaban yang sangat maju. Salah satu bukti kemajuan pada eranya adalah dibangunnya Istana Khudayar Khan. Berdiri di Kota Kokand, istana ini menyandang status sebagai istana termegah sepanjang Dinasti Kokand Khanate (1709-1876M) sebelum akhirnya pasukan Tsar Rusia menyerang dinasti ini 3 tahun kemdian, tepatnya pada Maret 1876. Istana tersebut dibangun dengan arsitek Mir Ubaidullah yang dikenal sebagai arsitek terbaik di wilayah tersebut pada eranya.

Kemegahan istana tersebut pun sempat disebut dalam sebuah memoir seorang diplomat Amerika Serikat yang ditugaskan di wilayah Rusia dan Asia Tengah pada 1867, yaitu Eugene Schuyler. Dikisahkan dalam memoir itu bahwa istana tersebut jauh lebih besar dan megah ketibmang istana Khanate di wilayah yang lain. “Bangunan ini jauh lebih besar dan megah dari berbagai istana Khanate yang lain di Asia Tengah. Semua ubin keramik istana ini tersusun sangat indah, berkilauan, memancarkan warna cerah biru, kuning, dan hijau,” ungkapnya dalam memoar tersebut.

Demikian indahnya isatana itu sampai-sampai banyak kalangan menyebutnya sebagai Mutiara di Lembah Fergana. Bangunan tersebut tampak kuat dan megah dengan konstruksi yang mumpuni di eranya. Dibangun di atas bukit, Istana Khudayar Khan memiliki pondai setinggi 3 meter berbahan batu bata. Jalan masuk menuju ke istana pun dibuat menanjak.

Pada gerbang pintu masuk utama, terdapat dua menara bergaya Gulastan India dengan susunan keramik Majolica yang begitu khas. Kaligrafi Arab bergaya Farisi bertuliskan “Syed Muhammad Khudayar Khan-Penguasa Besar” pun tampak terlihat dari susunan keramik Majolica khas Fergana. Menara dengan gaya erupa juga terdapat di bagian sudut kanan dan kiri bagian depan bangunan istana. (y)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here