Keistimewaan Cap Go Meh di Singkawang yang Selalu Menarik Minat Wisatawan

Cap Go Meh di Singkawang juga rutin menggelar karnival budaya yang meriah - sumber foto: Medha.id

0
639
Cap Go Meh di Singkawang
Cap Go Meh di Singkawang

Perayaan Cap Go Meh dikenal sebagai perayaan kelanjutan Tahun Baru Imlek. Umumnya, Cap Go Meh dirayakan dengan acara jamuan, dilanjutkan dengan kegiatan lainnya seperti Festival Lentera atau Karnival. Namun, ada yang berbeda dari perayaan Cap Go Meh di Singkawang, Kalimantan Barat, pada tanggal 5 – 19 Februari 2019.

Layaknya perayaan di beberapa wilayah di Indonesia, Cap Go Meh di Singkawang juga rutin menggelar karnival budaya yang meriah. Kendati demikian, bukan itu saja yang membuat perayaan besar orang Tionghoa di Singkawang berikut menjadi istimewa.

Cap Go Meh di Singkawang – sumber foto: Kompas.com

Cap Go Meh di Singkawang secara resmi merupakan bagian dari Top 100 Calender of Event (CoE) Kementerian Pariwisata. Rangkaian acaranya sendiri dijadikan satu paket dengan perayaan Tahun baru Imlek 2570 yang dibuka mulai 3 Februari 2019. Menyambung posisinya yang istimewa dalam pariwisata Indonesia, tidak heran jika pagelaran acara di Cap Go Meh di Singkawang diadakan secara besar-besaran.

Deretan atraksi terbaik yang bisa disaksikan di perayaan ini melingkupi pawai budaya. Tak hanya pawai kebudayaan Tionghoa biasa, melainkan ada juga pawai kebudayaan hasil asimilasi kebudayaan Tionghoa dengan suku Dayak.

Hanya di perayaan Cap Go Meh di Singkawang saja Sahabat Silir bisa menyaksikan parade tatung Tionghoa-Dayak. Secara harfiah, tatung memiliki arti roh dalam bahasa Hakka. Menurut kepercayaan, tatung merupakan sosok manusia yang tengah dirasuki roh dewa.

Mereka yang berpartisipasi dalam parade tatung dianggap bukan manusia biasa. Mereka merupakan orang-orang yang berasal dari garis keturunan para tatung yang bermigrasi dari China ke Kalimantan lebih dari 400 tahun silam. Kebudayaan yang asalnya dari daratan China ini akhirnya diadopsi juga oleh suku Dayak sehingga menjadi parade tatung Tionghoa-Dayak yang dikenal sekarang.

Setiap tahun, parade tatung terbesar di Kalimantan tersebut menyedot tak kurang dari 500 partisipan. Mereka akan berpawai di jalanan Kota Singkawang dengan dipapah di atas tandu berkursi pedang.

Seraya iring-iringan tatung menyentuh jalanan aspal, para tatung akan melakukan atraksi berbahaya di atas pedang-pedang lancip di atas tandu. Di antara mereka juga ada yang memerkan kesaktiannya melalui atraksi memakan pedang atau menusuk bagian tubuh menggunakan benda tajam.

Melengkapi kemeriahan Cap Go Meh di Kota Singkawang, acara pentas seni dan panggung live music tak ketinggalan diadakan menjelang malam hari. Di beberapa titik pertunjukan yang tersebar di Kota Singkawang, wisatawan juga bisa menikmati gemerlap festival lampion yang menambah kesan religius di sepanjang jalanan kota.

Nuansa religius semakin terasa pada puncak acara Cap Go Meh di Singkawang. Setelah menyaksikan prosesi Tolak Bala oleh para Rohaniawan, para wisatawan akan disambut oleh iring-iringan Sembahyang Dewa Langit. Prosesi ditutup dengan pembakaran Replika 12 Naga di Vihara Buddhayana Roban yang bertujuan melepas roh dewa naga kembali ke khayangan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here