Liku-Liku Singapura Jadi Negara Bersih

Perjalanan Singapura menjadi negara bersih dimulai dari tahun 1968. Hal ini sangat amazing, karena waktu itu hanya berselang setelah Singapura merdeka.

0
444
Singapura

Singapura menjadi negara terdekat dengan Indonesia yang menjadi tujuan wisata utama luar negeri para warganya. Tak mengherankan memang, jaraknya yang dekat – berbatasan dengan Kepulauan Riau (Kepri), membuat tiket penerbangan ke Negeri Singa murah meriah, dibandingkan ke negara Asia Tenggara lainnya.

Selain murahnya tiket maskapai, lengkapnya destinasi wisata sekaligus kebersihan negara tersebut membuat banyak turis bertah dan selalu ingin datang. Di balik kebersihan yang kini telah mendarah daging di negara itu, ternyata ada jalan panjang yang harus dilalui. Berikut adalah liku-liku Singapura menjadi negara bersih.

Singapura Jadi Negara Bersih

Dikutip dari detikTravel (11/11/2019), perjalanan Singapura menjadi negara bersih dimulai dari tahun 1968. Hal ini sangat amazing, karena waktu itu hanya berselang setelah Singapura merdeka. Lee Kuan Yew yang merupakan founding father Singapura-lah sosok yang mendorong Singapura menjadi negara bersih dan hijau.

Festival 2019 di Negeri Singa
Festival 2019 di Negeri Singa

Jurus pertama yang dilakukannya adalah kampanye Keep Singapore Clean pada 1968. Kampanye ini selanjutnya menjadi cikal bakal diberlakukannya denda untuk membuang sampah sembarangan. Kebijakan ini terus berlanjut hingga pada era 1970-1980an, Singapura mewajibkan setiap toilet, pabrik hingga pemberhentian bus tetap bersih.

Sementara pada 1976 diluncurkan kampanye ‘Use Your Hands’, yaitu mengajak siswa, orang tua dan guru, kepala sekolah bahkan pegawai negeri utnuk membersihkan sekolah di akhir pekan. Selain bersih-bersih, dilakukan pula penanaman pohon.

Tak berhenti pada kampanye saja, Singapura juga memberlakukan denda bagi orang yang membuang sampah sembarangan. Denda tersebut minimal USD 217 atau setara dengan sekitar Rp 3 jutaan. Aturan unik pun diberlakukan, seperti melarang import permen karet, membawa durian di kereta hingga denda bagi orang yang tidak membilas toilet.

Belum cukup upaya tersebut, pemerintah pun membekerjakan tak sedikit pekerja kebersihan. Tak tanggung-tanggung, Singapura, melalui National Environment Agency memiliki 56 tenaga kebersihan . Jumlah itu belum mencakup seluruh pekerja kebersihan, karena masih ada ribuan pekerja independen lain yang tidak teregistrasi . Para pekerja umumnya adalah buruh buruh asal luar negeri atau orang yang sudah tua.

Meski tidak mudah, Lee Kuan Yew tak patah semangat mendorong warganya berperilaku bersih. Bukan sekedar untuk terlihat bersih, jurus itu dilancarkan guna mewujudkan banyak hal positif lainnya.

Sebagaimana BBC pernah melaporkan bahwa Lee Kuan Yew pernah mengatakan, “standar-standar ini akan menjaga moral tetap tinggi, tingkat penyakit rendah, dan dengan demikian akan menciptakan kondisi sosial yang diperlukan untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dalam industri dan pariwisata. Ini akan berkontribusi bagi publik dan pada akhirnya menguntungkan semua orang.”

Benar saja memang, kini Singapura menjadi negara tujuan wisata, termasuk turis asal Indonesia. Jika orang Indonesia menggemari Singapura karena kebersihannya—terlepas dari banyaknya destinasi wisata menarik yang ditawarkan, lalu kapan kita sendiri akan mewujudkan negeri ini sebagai negeri yang bersih agar betah di negeri sendiri? (y)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here