Mengenal Hanami, Tradisi Musim Semi dari Jepang yang Penuh Nilai Filosofis

0
796
Tradisi Musim Semi dari Jepang
Tradisi Musim Semi dari Jepang

Sibuk Liburan – Di Jepang, musim semi adalah musim yang penuh dengan makna. Pada zaman kerajaan, para bangsawan biasanya memanfaatkan suasana sejuk di musim semi sebagai inspirasi membuat lukisan dan puisi.

Hingga kini pun tradisi musim semi dari Jepang masih dipenuhi nilai-nilai filosofis tinggi. Salah satunya melalui tradisi melihat bunga sakura atau dikenal dengan sebutan hanami.

Secara harfiah hanami memiliki arti “melihat bunga”. Kegiatan ini biasanya dilakukan secara bersama-sama di sebuah areal terbuka yang ditumbuhi banyak pohon sakura. Baik di daerah perkotaan maupun wilayah pedesaan, masyarakat akan berbondong-bondong berkumpul di satu titik dengan membawa banyak makanan dan sake.

Mereka akan menggelar tikar di bawah dahan-dahan sakura yang sedang lebat-lebatnya sembari berbincang bersama keluarga dan teman. Suasana pun semakin riuh jika ada kelompok yang membawa peralatan karaoke portable untuk bernyanyi.

Di masa modern seperti sekarang, melihat bunga sakura selalu identik dengan hiburan sekaligus wadah sosialisasi bagi seluruh masyarakat Jepang. Namun siapa sangka, tradisi ini dulunya hanya dilakukan para bangsawan dan keluarga Kaisar di pelataran benteng-benteng kediaman mereka.

Tidak heran jika di balik keriuhannya kini, hanami masih menyimpan nilai-nilai filosofis yang tinggi berkenaan keselarasan antara hidup manusia dengan musim semi di Jepang.

Masyarakat Jepang telah mengenal tradisi hanami sejak lebih dari seribu tahun yang lalu. Menurut kisah, tradisi melihat bunga di Jepang sudah ada sejak Zaman Nara sekitar abad ke-8.

Kala itu, bukan bunga sakura yang dikagumi, melainkan bunga dari pohon plum yang berwarna putih. Baru sekitar Zaman Heian yang berlangsung pada abad ke-9 hingga abad ke-12, bunga sakura mulai menarik perhatian para bangsawan dari kelas Samurai.

Menurut tradisi, mematahkan ranting atau memetik bunga sakura merupakan tindakan yang melanggar etika. Meskipun tidak ada aturan resmi, secara kolektif masyarakat Jepang mengganggap mematahkan ranting pohon sakura tanpa izin adalah perbuatan ilegal.

Masyarakat Jepang sadar bahwa kelopak bunga sakura hanya dapat hidup selama musim semi, oleh karena itu harus dipelihara baik-baik.

Tradisi Musim Semi dari Jepang
Tradisi Musim Semi dari Jepang

Selain itu, menurut tradisi Buddha Zen, guguran bunga sakura mewakili masa hidup manusia yang singkat. Bunga sakura pada satu pohon hanya hidup selama kurang lebih satu minggu.

Setelahnya, kelopak bunga pada tiap dahan akan gugur dengan indahnya hanya dengan beberapa kali sapuan angin. Konon tiap kelopak bunga yang rontok merupakan simbol jiwa mulia para Samurai yang gugur di medan perang dalam usia muda.

Sebegitu pentingnya tradisi hanami, waktu mekar bunga sakura di Jepang benar-benar dipantau dari tingkat pemerintahan melalui Badan Meteorologi Jepang. Setiap tahun, bunga pertama mekar pada awal bulan Februari di wilayah Jepang selatan, kemudian naik ke utara hingga mencapai Tokyo pada awal bulan April.

Saat bunga sakura yang terakhir mekar di Hokkaido, tandanya musim semi akan segera berakhir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here